BAB
I
PENDAHULUAN
A. `Latar Belakang
Keadaan gizi yang baik merupakan prasyarat terciptanya sumberdaya
manusia masa depan yang berkualitas. Anak yang mengalami
masalah gizi pada usia dini akan mengalami gangguan tumbuh
kembang dan meningkatkan kesakitan, penurunan produktivitas
serta kematian. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2005 - 2009 telah bertekad menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi
setinggi – tingginya 20%, termasuk prevalensi gizi buruk menjadi setinggi –
tingginya 5% pada tahun 2009. (Depkes,
2005)
Guna mencapai tujuan tersebut Departemen Kesehatan telah menyusun
Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009, melalui 4
strategi utama yaitu menggerakan dan memberdayakan masyarakat
untuk hidup sehat, meningkatan akses masyarakat terhadap
kesehatan yang berkualitas, meningkatkan sistem surveilans
dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan
kesehatan. Berdasarkan UU RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
dan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembiayaan
Urusan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menegaskan, informasi
status gizi memegang peranan penting dalam menentukan
perencanaan program di daerah.
Dalam rangka mencapai tujuan RPJMN dan Rencana Strategi Departemen
Kesehatan 2005-2009, Departemen Kesehatan akan melaksanakan Program Perbaikan
Gizi agar seluruh keluarga menjadi keluarga sadar gizi (KADARZI) yang merupakan
salah satu komponen DESA SIAGA. KADARZI adalah keluarga yang mengenal
masalah gizi dan mampu mengatasi masalah gizi setiap anggota
keluarga.
Mencermati
perkembangan masalah gizi dan pengalaman didalam pelaksanaan program perbaikan
gizi, diperlukan pergeseran orientasi program perbaikan gizi, mengacu pada
paradigma sehat.
Upaya
perbaikan gizi mempertimbangkan beberapa hal penting sebagai berikut;
a. Arah
perbaikan gizi lebih mengedepankan perubahan perilaku keluarga, untuk mencegah
dan menanggulangi gizi kurang dan gizi lebih;
b. Sasaran
perbaikan gizi diperluas mencakup seluruh kelompok siklus hidup, meliputi :
bayi, balita, usia sekolah, remaja dan usia produktif serta usia lanjut;
c. Pendekatan
yang lebih mengutamakan pemberdayaan keluarga, pemberdayaan masyarakat,
peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan didukung kerjasama lintas sector.
Keluarga
Sadar Gizi (KADARZI), merupakan gambaran keluarga yang berperilaku gizi
seimbang, mampu mengenali dan memecahkan masalah gizi anggota keluarganya.
Masalah gizi di Indonesia masih merupakan
masalah yang cukup berat, masalah gizi masih memerlukan perhatian, Menurut data Survey Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas) tahun 2005 diperoleh sebanyak 28% balita di Indonesia
mengalami masalah gizi kurang dan 8,8% mengalami masalah gizi berat badan anak
secara teratur (Buchori, 2007). Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk
masih tinggi, ada kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa
tahun terakhir. Hasil pemetaan gizi lebih di wilayah perkotaan di Indonesia
menunjukkan bahwa sekitar 12% penduduk dewasa menderita gizi lebih (Depkes RI,
2007).
Gambaran perilaku gizi yang belum baik juga
ditunjukkan dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan
oleh ibu. Survey yang dilakukan pada tahun 2006 sekitar 50% anak balita tidak
dibawa ke posyandu, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak mereka
(Arisman, 2007: 8 ). Selain itu perilaku sadar gizi yang belum baik adalah
masih rendahnya ibu yang menyusui bayi 0-6 bulan secara ekslusif. WHO mencatat
pada ahir-ahir ini jumlah ibu yang menyusui dan lamanya pemberian ASI menurun
di seluruh dunia. Penyebabnya antara lain berhubungan dengan faktor sosial,
ekonomi, pemasaran susu formula, pengetahuan ibu tentang gizi ASI masih kurang
dan tekanan kehidupan modern. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar bayi
diberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Sebab, terbukti menurunkan
angka kematian dan kesakitan pada umumnya dibandingkan dengan menyusui empat
bulan dilanjutkan dengan ASI dicampur susu formula dari empat-enam bulan
(Bresfeeding, 2009).
Memasuki
usia sekolah lebih dari sepertiga (36%) anak tergolong pendek, sebagai indikasi
kekurangan gizi menahun. Pada tahun 2003, 11% anak sekolah menderita GAKY.
Disamping itu diperkirakan 10 juta anak menderita anemia gizi besi.
Secara
keseluruhan gangguan gizi pada anak usia sekolah mempengaruhi prestasi belajar,
yang sangat merugikan generasi mendatang. Pada usia remaja dan usia produktif,
anema gizi merupakan masalah yang paling sering ditemui. Sepertiga remaja putri
dan WUS serta sekitar 50% ibu hamil menderita anemia gizi. Selain itu kurang
energi kronis (KEK) juga ditemui pada sekitar 30 juta kelompok usia produktif.
Kurang gizi pada kelompok ini sangat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh
dan produktivitas. Masa kehamilan sering disebut periode kritis terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak. Gangguan gizi pada masa ini akan menentukan
pertumbuhan dan perkembangan janin dan akan berdampak pada periode berikutnya.
Dimasa
mendatang proporsi usia lanjut akan semakin bertambah, seiring dengan
meningkatnya umur harapan hidup. Tanpa disadari sekitar 5 juta lansia menderita
gangguan anemia gizi.
Selanjutnya,
menyangkut cakupan program gizi di Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2009,
menunjukkan Persentase bayi dan balita yang ditimbang hanya mencapai 68,85%,
BGM 2,95%, gizi buruk 0,02 %, vitamin A 61,98%, Fe3 baru mencapai 71,69%, asi
Eksklusif 59,80% serta cakupan penggunaan garam beryodium hanya mencapai 53,21%
(Dinkes Prop.Sulsel,2009)
Seiring dengan itu, data cakupan program gizi di Kabupaten Pangkep tahun
2009, masih sangat perlu mendapat perhatian khusus dari semua kalangan
pemerhati masalah gizi. Di Kabupaten Pangkep diperoleh cakupan bayi dan balita
yang dimbang 62,01%, BGM 6,35%, gizi buruk 0,13 % atau berjumlah 26 orang,
cakupan vitamin A 54,42%, serta penggunaan garam beryodium yang baru mencapai
58,82%.(Dinkes Kab.Pangkep,2009).
Kemudian data cakupan perbaikan gizi di Puskesmas Bowong Cindea tahun
2011, menunjukkan masih adanya beberapa kegiatan yang belum mencapai target, di
antaranya cakupan N/S 68,6% dari target 80%, RT yang belum mengkonsumsi garam
beryodium baru sekitar 62,8% (target 77%), Vitamin A Bufas 75,9% (target 90%)
dan Fe3 bumil hanya mencapai 56,8% dari target 74%.(Profil Pusk.Bowong
Cindea,2011).
Hal yang juga menjadi dasar penting dalam pembentukan Kampung Kadarzi Di
Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka adalah dengan mengacu pada hasil
pemetaan Kadarzi pada tahun 2010 di Kelurahan Bori Appaka yang menunjukkan bahwa
kadarzi masih sangat perlu diperhatikan. Indikator menimbang berat badan secara
teratur hanya mencapai 71,5% , ASI eksklusif 49,9%, penggunaan garam beryodium
53,2%, mengkonsumsi suplemen gizi 64,4% dan indikator mengkonsumsi aneka ragam
makanan sudah cukup baik yakni 71,5%.
Terkhusus hasil pemetaan kadarzi di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori
Appaka pada Tahun 2012 adalah sebagai berikut, dari 26 rumah tangga , hanya 19,2%
(5 RT) yang telah mengkonsumsi garam beryodium, dan hanya 25% (1 org) yang
memberikan ASI eksklusif pada bayinya, kemudian yang teratur mengkonsumsi
suplemen gizi pada saat dibutuhkan hanya 33,3% (2 org dari 6 sasaran balita),
sementara indikator yang lain telah cukup baik. Di samping data hasil pemetaan
kadarzi di Rappo Rappo Jawae tersebut, kondisi geografis dan demografi dari
Rappo Rappo Jawae menjadi dasar pertimbangan untuk dijadikan sebagai Kampung
Kadarzi.
Mengacu pada kenyataan itulah, sehingga kami sebagai Petugas Gizi di
Puskesmas Bowong Cindea merasa tertarik untuk menjadikan Kampung Rappo
Rappo Jawae yang berada di wilayah RW I Sengkae Kelurahan Bori Appaka
Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep sebagai “ Kampung Kadarzi “
yang tentunya diharapkan dapat menjadi
contoh pada kampung kampung yang lain untuk dapat dijadikan Kampung Kadarzi
berikutnya yang merupakan sebagai upaya pemberdayaan dalam perbaikan gizi
masyarakat.
B. Tujuan
1) Tujuan Umum
Untuk membangun kemandirian
pemberdayaan dan kesadaran masyarakat
di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep
dalam mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggota keluarganya.
2) Tujuan
Khusus
Adapun
tujuan khusus dibentuknya “ Kampung Kadarzi “ di Rappo Rappo Jawae Kelurahan
Bori Appaka Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang Kampung Kadarzi;
b. Meningkatkan
pengetahuan tentang sejarah Kadarzi;
c. Meningkatkan
pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang 5 ( lima ) indikator Kadarzi;
d. Melaksanakan
kegiatan – kegiatan yang mengarah pada peningkatan perilaku sadar gizi;
e. Meningkatkan
strategi promosi Keluarga Sadar Gizi (
Kadarzi );
Tidak ada komentar:
Posting Komentar