Jumat, 19 April 2013

Latar Belakang Kampung Kadarzi


BAB I
                                                   PENDAHULUAN                  

A.     `Latar Belakang

Keadaan gizi yang baik merupakan prasyarat terciptanya sumberdaya manusia masa depan yang berkualitas. Anak yang mengalami masalah gizi pada usia dini akan mengalami gangguan tumbuh kembang dan meningkatkan kesakitan, penurunan produktivitas serta kematian. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005 - 2009 telah bertekad menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi – tingginya 20%, termasuk prevalensi gizi buruk menjadi setinggi – tingginya 5% pada tahun 2009. (Depkes, 2005)
Guna mencapai tujuan tersebut Departemen Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009, melalui 4 strategi utama yaitu menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatan akses masyarakat terhadap kesehatan yang berkualitas, meningkatkan sistem surveilans dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan. Berdasarkan UU RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembiayaan Urusan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menegaskan, informasi status gizi memegang peranan penting dalam menentukan perencanaan program di daerah.
Dalam rangka mencapai tujuan RPJMN dan Rencana Strategi Departemen Kesehatan 2005-2009, Departemen Kesehatan akan melaksanakan Program Perbaikan Gizi agar seluruh keluarga menjadi keluarga sadar gizi (KADARZI) yang merupakan salah satu komponen DESA SIAGA. KADARZI adalah keluarga yang mengenal masalah gizi dan mampu mengatasi masalah gizi setiap anggota keluarga.
Mencermati perkembangan masalah gizi dan pengalaman didalam pelaksanaan program perbaikan gizi, diperlukan pergeseran orientasi program perbaikan gizi, mengacu pada paradigma sehat.
Upaya perbaikan gizi mempertimbangkan beberapa hal penting sebagai berikut;
a.    Arah perbaikan gizi lebih mengedepankan perubahan perilaku keluarga, untuk mencegah dan menanggulangi gizi kurang dan gizi lebih;
b.    Sasaran perbaikan gizi diperluas mencakup seluruh kelompok siklus hidup, meliputi : bayi, balita, usia sekolah, remaja dan usia produktif serta usia lanjut;
c.    Pendekatan yang lebih mengutamakan pemberdayaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan didukung kerjasama lintas sector.
Keluarga Sadar Gizi (KADARZI), merupakan gambaran keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali dan memecahkan masalah gizi anggota keluarganya.
Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah yang cukup berat, masalah gizi masih memerlukan perhatian, Menurut data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2005 diperoleh sebanyak 28% balita di Indonesia mengalami masalah gizi kurang dan 8,8% mengalami masalah gizi berat badan anak secara teratur (Buchori, 2007). Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk masih tinggi, ada kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa tahun terakhir. Hasil pemetaan gizi lebih di wilayah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 12% penduduk dewasa menderita gizi lebih (Depkes RI, 2007).
Gambaran perilaku gizi yang belum baik juga ditunjukkan dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh ibu. Survey yang dilakukan pada tahun 2006 sekitar 50% anak balita tidak dibawa ke posyandu, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak mereka (Arisman, 2007: 8 ). Selain itu perilaku sadar gizi yang belum baik adalah masih rendahnya ibu yang menyusui bayi 0-6 bulan secara ekslusif. WHO mencatat pada ahir-ahir ini jumlah ibu yang menyusui dan lamanya pemberian ASI menurun di seluruh dunia. Penyebabnya antara lain berhubungan dengan faktor sosial, ekonomi, pemasaran susu formula, pengetahuan ibu tentang gizi ASI masih kurang dan tekanan kehidupan modern. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar bayi diberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Sebab, terbukti menurunkan angka kematian dan kesakitan pada umumnya dibandingkan dengan menyusui empat bulan dilanjutkan dengan ASI dicampur susu formula dari empat-enam bulan (Bresfeeding, 2009).
Memasuki usia sekolah lebih dari sepertiga (36%) anak tergolong pendek, sebagai indikasi kekurangan gizi menahun. Pada tahun 2003, 11% anak sekolah menderita GAKY. Disamping itu diperkirakan 10 juta anak menderita anemia gizi besi.
Secara keseluruhan gangguan gizi pada anak usia sekolah mempengaruhi prestasi belajar, yang sangat merugikan generasi mendatang. Pada usia remaja dan usia produktif, anema gizi merupakan masalah yang paling sering ditemui. Sepertiga remaja putri dan WUS serta sekitar 50% ibu hamil menderita anemia gizi. Selain itu kurang energi kronis (KEK) juga ditemui pada sekitar 30 juta kelompok usia produktif. Kurang gizi pada kelompok ini sangat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh dan produktivitas. Masa kehamilan sering disebut periode kritis terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Gangguan gizi pada masa ini akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan janin dan akan berdampak pada periode berikutnya.
Dimasa mendatang proporsi usia lanjut akan semakin bertambah, seiring dengan meningkatnya umur harapan hidup. Tanpa disadari sekitar 5 juta lansia menderita gangguan anemia gizi.
Selanjutnya, menyangkut cakupan program gizi di Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2009, menunjukkan Persentase bayi dan balita yang ditimbang hanya mencapai 68,85%, BGM 2,95%, gizi buruk 0,02 %, vitamin A 61,98%, Fe3 baru mencapai 71,69%, asi Eksklusif 59,80% serta cakupan penggunaan garam beryodium hanya mencapai 53,21% (Dinkes Prop.Sulsel,2009)
Seiring dengan itu, data cakupan program gizi di Kabupaten Pangkep tahun 2009, masih sangat perlu mendapat perhatian khusus dari semua kalangan pemerhati masalah gizi. Di Kabupaten Pangkep diperoleh cakupan bayi dan balita yang dimbang 62,01%, BGM 6,35%, gizi buruk 0,13 % atau berjumlah 26 orang, cakupan vitamin A 54,42%, serta penggunaan garam beryodium yang baru mencapai 58,82%.(Dinkes Kab.Pangkep,2009).
Kemudian data cakupan perbaikan gizi di Puskesmas Bowong Cindea tahun 2011, menunjukkan masih adanya beberapa kegiatan yang belum mencapai target, di antaranya cakupan N/S 68,6% dari target 80%, RT yang belum mengkonsumsi garam beryodium baru sekitar 62,8% (target 77%), Vitamin A Bufas 75,9% (target 90%) dan Fe3 bumil hanya mencapai 56,8% dari target 74%.(Profil Pusk.Bowong Cindea,2011).
Hal yang juga menjadi dasar penting dalam pembentukan Kampung Kadarzi Di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka adalah dengan mengacu pada hasil pemetaan Kadarzi pada tahun 2010 di Kelurahan Bori Appaka yang menunjukkan bahwa kadarzi masih sangat perlu diperhatikan. Indikator menimbang berat badan secara teratur hanya mencapai 71,5% , ASI eksklusif 49,9%, penggunaan garam beryodium 53,2%, mengkonsumsi suplemen gizi 64,4% dan indikator mengkonsumsi aneka ragam makanan sudah cukup baik yakni 71,5%.
Terkhusus hasil pemetaan kadarzi di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka pada Tahun 2012 adalah sebagai berikut, dari 26 rumah tangga , hanya 19,2% (5 RT) yang telah mengkonsumsi garam beryodium, dan hanya 25% (1 org) yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya, kemudian yang teratur mengkonsumsi suplemen gizi pada saat dibutuhkan hanya 33,3% (2 org dari 6 sasaran balita), sementara indikator yang lain telah cukup baik. Di samping data hasil pemetaan kadarzi di Rappo Rappo Jawae tersebut, kondisi geografis dan demografi dari Rappo Rappo Jawae menjadi dasar pertimbangan untuk dijadikan sebagai Kampung Kadarzi.
Mengacu pada kenyataan itulah, sehingga kami sebagai Petugas Gizi di Puskesmas Bowong Cindea merasa tertarik untuk menjadikan Kampung Rappo Rappo Jawae yang berada di wilayah RW I Sengkae Kelurahan Bori Appaka Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep sebagai “ Kampung Kadarzi “ yang tentunya  diharapkan dapat menjadi contoh pada kampung kampung yang lain untuk dapat dijadikan Kampung Kadarzi berikutnya yang merupakan sebagai upaya pemberdayaan dalam perbaikan gizi masyarakat.

B.    Tujuan
1)    Tujuan Umum
Untuk membangun kemandirian pemberdayaan dan kesadaran masyarakat di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep dalam mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggota keluarganya.




2)    Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dibentuknya “ Kampung Kadarzi “ di Rappo Rappo Jawae Kelurahan Bori Appaka Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep adalah sebagai berikut :
a.    Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Kampung Kadarzi;
b.    Meningkatkan pengetahuan tentang sejarah Kadarzi;
c.    Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang 5 ( lima ) indikator Kadarzi;
d.    Melaksanakan kegiatan – kegiatan yang mengarah pada peningkatan perilaku sadar gizi;
e.    Meningkatkan strategi promosi  Keluarga Sadar Gizi ( Kadarzi );

Tidak ada komentar:

Posting Komentar