Jumat, 19 April 2013

Indikator Kadarzi Oleh Ruslan Hamid,S.SiT


A.     Indikator Kadarzi
       Ada 5 (lima) indikator yang menjadi ciri keluarga menjadi sadar gizi, adapun kelima indikator tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
1.    Menimbang berat badan secara teratur
             Salah satu sarana yang disediakan untuk memantau pertumbuhan balita yang tersebar di seluruh Indonesia adalah posyandu. Sebagai salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM), Posyandu diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes,2006). Pelayanan Posyandu yang berhubungan dengan pemantauan pertumbuhan balita meliputi  penimbangan berat badan, penetuan status pertumbuhan, serta tindak lanjut pemantauan pertumbuhan berupa konseling dan rujukan kasus.
1.    Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif)

ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI saja bagi bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Pengecualiannya adalah bila diperlukan bayi diperbolehkan minum obat-obatan, vitamin dan mineral tetes atas saran dokter. Selama masa pemberian ASI eksklusif, bayi tidak diberikan makanan atau minuman lain (susu formula, jeruk, madu, air, teh dan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, bubur nasi, biskuit, nasi tim), termasuk air minum sampai usia 6 bulan.
ASI memiliki kandungan gizi yang sangat lengkap untuk memenuhi perkembangan (kecerdasan) bayi sampai usia 6 bulan. Selain dapat meningkatkan daya tahan tubuh, ASI memiliki banyak manfaat lain bagi balita antara lain meningkatkan jalinan kasih sayang antara Ibu dan bayi, mudah dicerna, melindungi bayi dari infeksi, serta menurunkan resiko tenakan darah tinggi dan obesitas pada usia dewasa.
Bagi Ibu, ASI juga memberikan manfaat yang besar yaitu mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mencegah/mengurangi terjadinya anemia, menunda kembalinya kesuburan Ibu sesudah melahirkan sehingga dapat menjaga waktu hingga kehamilan berikutnya, membantu rahim kembali ke ukuran semula, mempercepat penurunan berat badan seperti sebelum hamil, mengurangi kemungkinan menderita kanker ovarium dan payudara, lebih ekonomis, serta tidak merepotkan.
Memberikan ASI eksklusif dijadikan sebagai salah satu indikator perilaku KADARZI dengan harapan dapat meningkatkan status gizi balita yang berpengaruh pada kualitas hidupnya di masa mendatang.
1.    Makan Beraneka Ragam
Setiap orang perlu mengkonsumsi beraneka ragam makanan karena tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang cukup. Makanan beraneka ragam adalah makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya.
Keanekaragaman makanan dalam hidangan sehari-hari yang dikonsumsi minimal harus berasal dari satu jenis makanan sumber zat tenaga, satu jenis makanan sumber zat pembangun dan satu jenis makanan sumber zat pengatur. Dengan konsumsi rutin makanan yang beraneka ragam sesuai kebutuhan, gizi makro dan mikro bagi tubuh dapat terpenuhi untuk mobilitas.
a.    Makanan Sumber Zat Tenaga
Sumber zat tenaga sebagian besar dihasilkan oleh makanan pokok. Dalam susunan hidangan Indonesia, bahan makanan dianggap sebagai bagian yang paling penting sehingga jumlah kebutuhannya  mencapai 65% dari kebutuhan total perhari.
Bahan makanan sumber zat tenaga yang mengandung tinggi karbohidrat antara lain beras, ubi jalar, singkong, kentang, pisang, sagu gandum.
b.    Makanan Sumber Zat Pembangun
Bahan makanan penghasil zat pembangun yang terbesar berasal dari kelompok lauk pauk. Kelompok ini menghasilkan protein yang dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh serta membangun struktur sel.
Bahan makanan sumber protein dibedakan menjadi dua jenis yaitu hewani (daging, telur, ikan, susu, dsb) dan nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan).
c.    Makanan Sumber Zat Pengatur
Golongan sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan bahan pangan penghasil zat pengatur yang berfungsi mengatur proses metabolisme tubuh. Umumnya bahan makanan dari golongan ini memiliki kandungan vitamin dan mineral dalam jumlah lebih banyak disbanding bahan makanan dari golongan lain.
a.    Menggunakan Garam Beryodium
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya
dengan yodium yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Sebagai garam konsumsi, garam beryodium harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung yodium sebesar   30 – 80 ppm.
Gangguan yang terjadi akibat kekurangan yodium antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid (gondok), kretin (kerdil), gangguan motorik (kesulitan berdiri atau berjalan normal), bisu, tuli, hingga juling. Sedangkan keterbelakangan mental termasuk berkurangnya tingkat kecerdasan anak.
Yodium dalam garam dapat dipertahankan kualitasnya dengan penyimpanan dan penggunaan yang baik dan benar, seperti berikut:
1)    Disimpan pada wadah yang tertutup rapat dan tidak tekena sinar matahari;
2)    Jika garam disimpan dalam kemasan plastik dengan kelembaban nisbi 70% - 80% dapat bertahan selama 6 bulan, tetapi kandungan yodiumnya akan hilang sebanyak 7% tergantung dari ketinggian suatu daerah dari permukaan laut;
3)    Disimpan di tempat yang kering dan jauh dari sumber panas seperti kompor, karena garam bersifat higroskopis (mudah menyerap air);
4)    Sebaiknya garam ditambahkan setelah selesai memasak karena yodium akan merosot drastic hingga 0 ppm ketika bercampur dengan cabai, merica, ketumbar dan terasi. Selain itu juga agar kerusakan yodium sebanyak 20% selama proses memasak bisa dikurangi;


5.    Minum Suplemen Gizi (Kapsul Vitamin A Dosis Tinggi)
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati dan tidak dibuat oleh tubuh sehingga harus dipenuhi melalui asupan dari luar. Manfaat penting Vitamin A antara lain:
a.    Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi seperti campak dan diare;.
b.    Membantu proses penglihatan dalam adaptasi dari tempat yang terang ke tempat yang gelap;
c.    Mencegah kelainan pada sel-sel epitel termasuk selaput lendir mata;
d.    Mencegah terjadinya proses metaplasi sel-sel epitel sehingga kelenjar tidak memproduksi cairan yang dapat menyebabkan terjadinya kekeringan pada mata (xerosis konjungtiva);
e.    Mencegah terjadinya kerusakan mata berlanjut yang akan menjadi bercak bitot (bitot’s spot) bahkan kebutaan;
f.     Vitamin A essensial untuk membantu proses pertumbuhan.
Vitamin A dapat bersumber dari air susu ibu, bahan makanan hewani (hati, kuning telur, ikan, daging, ayam, bebek), buah-buahan berwarna kuning dan jingga (papaya, mangga masak, alpukat, jambu biji merah, pisang), sayuran yang berwarna hijau tua dan jingga (bayam, daun singkong, kangkung, daun katuk, daun mangkokan, daun kelor, daun bluntas, kecipir, labu kuning, daun ubi jalar, tomat, wortel), bahan makanan yang dirtifikasi dengan vitamin A (margarin, susu, mie instant).
Kurang Vitamin A (KVA) dapat terjadi pada saat simpanan Vitamin A dalam tubuh berkurang. Pada tahap awal ditandai dengan gejala rabun senja, atau kurang dapat melihat pada malam hari. Gejala tersebut juga ditandai dengan menurunnya kadar serum retional dalam darah (kurang dari 20 mg/dl). Pada tahap selanjutnya terjadi kelainan jaringan epitel dari organ tubuh seperti paru-paru, usus, kulit dan mata.
Salah satu upaya penanggulangan masalah KVA adalah dengan mengupayakan rencana program penanggulangan jangka pendek melalui pemberian kapsul Vitamin A. Kapsul Vitamin A dengan sasaran bayi 6 – 11 bulan berwarna biru dengan dosis 100.000 SI dan diberikan pada bulan Februari atau Agustus. Sedangkan untuk balita 12 – 59 bulan berwarna merah dengan dosis 200.000 SI, diberikan setiap bulan Februari dan Agustus. Kapsul Vitamin A mudah didapatkan karena Ibu cukup membawa balita ke Posyandu tanpa perlu mengeluarkan biaya. Kapsul Vitamin A juga diberikan pada balita yang sakit campak, diare, gizi buruk atau xeroftalmia dengan dosis sesuai umurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar