A. Indikator
Kadarzi
Ada 5 (lima) indikator yang menjadi ciri
keluarga menjadi sadar gizi, adapun kelima indikator tersebut akan diuraikan
sebagai berikut :
1. Menimbang
berat badan secara teratur
Salah satu sarana yang disediakan
untuk memantau pertumbuhan balita yang tersebar di seluruh Indonesia adalah
posyandu. Sebagai salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
(UKBM), Posyandu diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan
dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes,2006). Pelayanan
Posyandu yang berhubungan dengan pemantauan pertumbuhan balita meliputi penimbangan berat badan, penetuan status
pertumbuhan, serta tindak lanjut pemantauan pertumbuhan berupa konseling dan
rujukan kasus.
1. Memberikan
Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI
Eksklusif)
ASI eksklusif adalah
memberikan hanya ASI saja bagi bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan.
Pengecualiannya adalah bila diperlukan bayi diperbolehkan minum obat-obatan,
vitamin dan mineral tetes atas saran dokter. Selama masa pemberian ASI
eksklusif, bayi tidak diberikan makanan atau minuman lain (susu formula, jeruk,
madu, air, teh dan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, bubur
nasi, biskuit, nasi tim), termasuk air minum sampai usia 6 bulan.
ASI memiliki
kandungan gizi yang sangat lengkap untuk memenuhi perkembangan (kecerdasan)
bayi sampai usia 6 bulan. Selain dapat meningkatkan daya tahan tubuh, ASI memiliki
banyak manfaat lain bagi balita antara lain meningkatkan jalinan kasih sayang
antara Ibu dan bayi, mudah dicerna, melindungi bayi dari infeksi, serta
menurunkan resiko tenakan darah tinggi dan obesitas pada usia dewasa.
Bagi Ibu, ASI juga
memberikan manfaat yang besar yaitu mengurangi perdarahan setelah melahirkan,
mencegah/mengurangi terjadinya anemia, menunda kembalinya kesuburan Ibu sesudah
melahirkan sehingga dapat menjaga waktu hingga kehamilan berikutnya, membantu
rahim kembali ke ukuran semula, mempercepat penurunan berat badan seperti
sebelum hamil, mengurangi kemungkinan menderita kanker ovarium dan payudara,
lebih ekonomis, serta tidak merepotkan.
Memberikan ASI
eksklusif dijadikan sebagai salah satu indikator perilaku KADARZI dengan
harapan dapat meningkatkan status gizi balita yang berpengaruh pada kualitas
hidupnya di masa mendatang.
1.
Makan Beraneka Ragam
Setiap orang perlu
mengkonsumsi beraneka ragam makanan karena tidak ada satupun jenis makanan yang
mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang cukup.
Makanan beraneka ragam adalah makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang
diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya.
Keanekaragaman
makanan dalam hidangan sehari-hari yang dikonsumsi minimal harus berasal dari
satu jenis makanan sumber zat tenaga, satu jenis makanan sumber zat pembangun
dan satu jenis makanan sumber zat pengatur. Dengan konsumsi rutin makanan yang
beraneka ragam sesuai kebutuhan, gizi makro dan mikro bagi tubuh dapat
terpenuhi untuk mobilitas.
a. Makanan
Sumber Zat Tenaga
Sumber zat tenaga sebagian besar dihasilkan oleh makanan
pokok. Dalam susunan hidangan Indonesia, bahan makanan dianggap sebagai bagian
yang paling penting sehingga jumlah kebutuhannya mencapai 65% dari kebutuhan total perhari.
Bahan makanan sumber zat tenaga yang mengandung tinggi
karbohidrat antara lain beras, ubi jalar, singkong, kentang, pisang, sagu
gandum.
b. Makanan
Sumber Zat Pembangun
Bahan makanan penghasil zat pembangun yang terbesar
berasal dari kelompok lauk pauk. Kelompok ini menghasilkan protein yang
dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh serta membangun struktur sel.
Bahan makanan sumber protein dibedakan menjadi dua jenis
yaitu hewani (daging, telur, ikan, susu, dsb) dan nabati (tempe, tahu,
kacang-kacangan).
c. Makanan
Sumber Zat Pengatur
Golongan sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan bahan
pangan penghasil zat pengatur yang berfungsi mengatur proses metabolisme tubuh.
Umumnya bahan makanan dari golongan ini memiliki kandungan vitamin dan mineral
dalam jumlah lebih banyak disbanding bahan makanan dari golongan lain.
a.
Menggunakan Garam Beryodium
Garam beryodium
adalah garam yang telah diperkaya
dengan yodium yang
dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan.
Sebagai garam konsumsi, garam beryodium harus memenuhi Standar Nasional
Indonesia (SNI) antara lain mengandung yodium sebesar 30 – 80 ppm.
Gangguan yang terjadi
akibat kekurangan yodium antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan
keterbelakangan mental. Gangguan fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid
(gondok), kretin (kerdil), gangguan motorik (kesulitan berdiri atau berjalan
normal), bisu, tuli, hingga juling. Sedangkan keterbelakangan mental termasuk
berkurangnya tingkat kecerdasan anak.
Yodium dalam garam
dapat dipertahankan kualitasnya dengan penyimpanan dan penggunaan yang baik dan
benar, seperti berikut:
1)
Disimpan
pada wadah yang tertutup rapat dan tidak tekena sinar matahari;
2)
Jika
garam disimpan dalam kemasan plastik dengan kelembaban nisbi 70% - 80% dapat
bertahan selama 6 bulan, tetapi kandungan yodiumnya akan hilang sebanyak 7%
tergantung dari ketinggian suatu daerah dari permukaan laut;
3)
Disimpan
di tempat yang kering dan jauh dari sumber panas seperti kompor, karena garam
bersifat higroskopis (mudah menyerap air);
4)
Sebaiknya
garam ditambahkan setelah selesai memasak karena yodium akan merosot drastic
hingga 0 ppm ketika bercampur dengan cabai, merica, ketumbar dan terasi. Selain
itu juga agar kerusakan yodium sebanyak 20% selama proses memasak bisa
dikurangi;
5.
Minum Suplemen Gizi (Kapsul Vitamin A Dosis
Tinggi)
Vitamin A merupakan
salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati dan
tidak dibuat oleh tubuh sehingga harus dipenuhi melalui asupan dari luar.
Manfaat penting Vitamin A antara lain:
a.
Meningkatkan
daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi seperti campak dan diare;.
b.
Membantu
proses penglihatan dalam adaptasi dari tempat yang terang ke tempat yang gelap;
c.
Mencegah
kelainan pada sel-sel epitel termasuk selaput lendir mata;
d.
Mencegah
terjadinya proses metaplasi sel-sel epitel sehingga kelenjar tidak memproduksi
cairan yang dapat menyebabkan terjadinya kekeringan pada mata (xerosis
konjungtiva);
e.
Mencegah
terjadinya kerusakan mata berlanjut yang akan menjadi bercak bitot (bitot’s spot) bahkan kebutaan;
f.
Vitamin
A essensial untuk membantu proses pertumbuhan.
Vitamin A dapat
bersumber dari air susu ibu, bahan makanan hewani (hati, kuning telur, ikan,
daging, ayam, bebek), buah-buahan berwarna kuning dan jingga (papaya, mangga
masak, alpukat, jambu biji merah, pisang), sayuran yang berwarna hijau tua dan
jingga (bayam, daun singkong, kangkung, daun katuk, daun mangkokan, daun kelor,
daun bluntas, kecipir, labu kuning, daun ubi jalar, tomat, wortel), bahan
makanan yang dirtifikasi dengan vitamin A (margarin, susu, mie instant).
Kurang Vitamin A
(KVA) dapat terjadi pada saat simpanan Vitamin A dalam tubuh berkurang. Pada
tahap awal ditandai dengan gejala rabun senja, atau kurang dapat melihat pada
malam hari. Gejala tersebut juga ditandai dengan menurunnya kadar serum
retional dalam darah (kurang dari 20 mg/dl). Pada tahap selanjutnya terjadi
kelainan jaringan epitel dari organ tubuh seperti paru-paru, usus, kulit dan
mata.
Salah satu upaya
penanggulangan masalah KVA adalah dengan mengupayakan rencana program
penanggulangan jangka pendek melalui pemberian kapsul Vitamin A. Kapsul Vitamin
A dengan sasaran bayi 6 – 11 bulan berwarna biru dengan dosis 100.000 SI dan
diberikan pada bulan Februari atau Agustus. Sedangkan untuk balita 12 – 59
bulan berwarna merah dengan dosis 200.000 SI, diberikan setiap bulan Februari dan
Agustus. Kapsul Vitamin A mudah didapatkan karena Ibu cukup membawa balita ke
Posyandu tanpa perlu mengeluarkan biaya. Kapsul Vitamin A juga diberikan pada
balita yang sakit campak, diare, gizi buruk atau xeroftalmia dengan dosis
sesuai umurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar